24 June 2010

Jembatan Cinta Tiga Hati


Mengapa harus ada perbedaan dalam hidup ini? Pertanyaan sederhana namun mendalam yang coba digali oleh Benni Setiawan melalui film garapan terbarunya, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta  

Alhamdulillah, saya berkesempatan diundang menonton film ini sebelum tayang resminya (sebenarnya gantiin teman yang diundang karena dia berhalangan hadir :P ). Mudah-mudahan sharing saya kali ini bisa menjadi pertimbangan teman-teman MataSinema menentukan film yang akan ditonton selama musim liburan panjang ini.

Humor & Puisi

Inti cerita ini menggambarkan bagaimana usaha seorang pemuda muslim keturunan arab dan seorang gadis manado katolik mencoba menemukan jawaban terbaik atas kelanjutan hubungan cinta mereka. Awalnya, Rosid (Reza Rahadian) dan Delia (Laura Basuki) merasa nyaman-nyaman saja atas status mereka yang mereka coba sembunyikan dari keluarga masing-masing. Namun sepintar-pintar tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Konflik muncul ketika rahasia mereka terkuak dan ditambah dengan konflik antara Rosid dengan ayahnya, Mansur mengenai tradisi dalam agama cukup membuat saya penasaran terhadap akhir kisah cinta mereka. Sang ayah berusaha dengan segala cara agar pernikahan beda agama mereka tidak sampai terjadi, termasuk dengan menjodohkannya pada Nabila (Arumi Bachsin), gadis cantik berjilbab yang notabene adalah teman masa kecil sekaligus sepupu Rosid.

Tapi yang menarik justru humor yang muncul di setiap konflik-konflik tersebut. Hampir setiap permasalahan dalam cerita ini disisipi hal-hal konyol oleh para tokohnya sehingga menjadikan cerita ini terasa ringan walaupun masalah utama yang diangkat adalah hal-hal yang cukup ’berat’. Bayangkan bagaimana Rosid mengerjai ayahnya yang percaya dengan ramuan ’ajaib’ yang dapat mengabulkan doa, tingkah Rosid dalam mengkritisi kebiasaan-kebiasaan dalam ibadah yang dilakukan segolongan umat islam atau saat anak-anak jalanan mengomentari tentang Pancasila yang diajarkan Rosid pada mereka (yang terakhir ini jadi ingat ALNI )

Puisi-puisi (alm) W.S. Rendra juga mewarnai film yang diangkat dari novel karya Ben Sohib ini. Dalam kesempatan wawancara, Putut Widjanarko selaku Produser berharap film ini dapat mengangkat Rendra & puisi-puisinya sebagai bagian penting dari budaya Indonesia.


Jembatan perbedaan

Perbedaan itu sebuah keniscayaan dan karena itu kita perlu saling memahami dalam perbedaan. Terutama dalam Indonesia kita yang plural ini, saling memahami perbedaan menjadi sangat penting dalam upaya kita memecahkan berbagai masalah. Pada akhirnya cinta yang menjernihkan segala perbedaan diantara tokoh-tokoh dalam film ini. Satu quote dari Delia yang bisa kita jadikan hikmah,”apa gunanya ya kita bahagia jika akhirnya harus membuat sedih orang-orang di sekitar kita?”

Last but not least, tdk lengkap kalau kita tidak menilai akting para pemain. Guest who’s the star in this movie? Yup, Reza Rahadian! Kematangan akting cowok keturunan Iran satu ini tidak perlu diragukan lagi. Karakter Rosid yang ceplas-ceplos, kontras dengan tokoh-tokoh lain yang pernah dia perankan, mampu dimainkannya secara alami. Laura Basuki juga mampu menyeimbangkan tokoh Delia dengan Rosid di sepanjang alur cerita. Salah satu kekurangan film ini mungkin sedikitnya porsi tokoh Nabila bila dibandingkan dengan judul film ini, sehingga akting Arumi Bachsin terlihat ‘biasa’ dibandingkan dua tokoh utama lainnya.

Bila tidak ada aral melintang, film garapan Mizan Production yang kelima ini rencananya akan diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia 1 Juli nanti. Di akhir wawancara saya dengan pak Putut, beliau menyampaikan komitmen Mizan untuk terus mengangkat film bertema sosial. Rencananya akhir tahun ini Mizan juga akan merilis film terbaru yang bertemakan kesalehan sosial, so let’s wait and see… Tapi daripada nunggu, tonton dulu saja yang ada ;)

07 September 2009

Mulailah dari tujuan akhirmu! (sebuah refleksi untuk kita)



Karena Ku Tahu

Ku tak mengeluh atas perihku
Karena ku tahu
CintaMu menunggu di balik setiap peristiwa
Laksana ketabahan sang kerang mempersembahkan mutiara
Menawan hati setiap mata yang memandang

Ku tak pernah bosan berdo’a
Karena ku tahu
JawabanMu selalu menemani relung hatiku
Layaknya sang lebah menyusuri jalan Tuhannya
Menari menjemput bunga yang terpilih untuknya

Saat sekelilingku menjadi gelap
Bagai kafilah musafir di malam pekat
Maka jadikan aku sang pelita
Penunjuk jalan bagi mereka
Karena ku tahu
Itulah cara untuk membuat hidupku berarti

Saat seluruh dunia menerjangku
Bagai tsunami yang meluluhlantakkan
Maka jadikan aku sang batu karang
Yang tegar melindungi kehidupan
Karena ku tahu
Itulah harga untuk berjumpa denganMu

Wahai Kekasih

~Yugo Fandita, Depok Juli 2009~